Bagaimana Forex Muncul ?

Memahami forex mau tak mau sedikit banyaknya juga harus mengetahui sejarah forex hingga menjadi forex trading seperti yang saat ini kita kenal. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah uang dimana awalnya adalah era perdagangan dengan cara barter baru kemudian masyarakat menciptakan uang sebagai aalat pertukaran dimana terbuat dari emas dan perak sehingga disebut sebagai uang logam. Perekonomian terus berkembang pesat dan tentu saja uang logam yang berfungsi sebagai alat pertukaran pun semakin berkembang. Namun apa yang terjadi? logam emas dan perak persediannya terbatas sehinggd pars ekonom pada masa itu memikirkan bagaimana membuat terobosan dalam alat pembayaran. Emas dan perak tidak hanyd terbatas tapi juga kurang efisien karena berat dibawa kemana-mana dalam jumlah yang besar. Tak lama setelah itu muncullah uang kertas. Namun, pada awalnya uang kertas fungsinya tidaklah seperti sekarang. Awalnya uang kertas yang diciptakan dan diedarkan adalah bukti kepemilikan emas dan perak sebagai alat pertukaran.

Kemudian barulah pada tahap selanjutnya masyarakat tidak lagi menggunakan emas dan perak (secara langsung) sebagai alat pertukaran, tetapi menggunakan kertas jaminan tersebut sebagai alat pembayaran (uang kertas).

Penggunaan uang, baik mata uang logam maupun uang kertas sebagai alat pertukaran hanya berlaku diwilayah yang terbatas sehingga dalam hubungan bilateral antara dua negara khususnya dalam bidang perekomonian maka dibuatlah kesepakatan atas nilai tukar yang dijamin oleh emas murni. Pada era 1880-an sampai dengan Perang Dunia I, tatanan perdagangan international menggunakan standar emas. Uang dijamin dengan emas murni dan setiap negara memiliki standar sendiri. Jadi, nilai tukar mata uang pada masa itu relatif stabil. Kemudian, pada awal 1930-an, sistem standar emas yang digunakan dalam perdagangan international tidak lagi digunakan. Meletusnya Perang Dunia I (1914-1918) terutama menyebabkan kehancuran perekonomian negara-negara. Negara harus berhadapan dengan masalah tingkat inflasi yang tinggi. Pengangguran dimana-mana, kemiskinan, kejahatan yang semakin meningkat, hancurnya sektor industry, berbagai macam masalah sosial yang muncul akibat perang dan lain sebagainya. Selain itu, negara harus mergatasi masalah defisit neraca pembayaran dan kerugian yang timbul akibat perang. Tampaknya nilai tukar yang relatif stabil tidak cukup mengoreksi defisit neraca pembayaran.

Pada akhir Perang Dunia I, Jerman dinyatakan sebagai negara yang kalah perang dan harus membayar kepada negara pemenang perang. Pemerintah Jerman telah membuat kesalahan besar, yakni dengan mencetak berjuta-juta mata uang Marks untuk membayar negara-negara pemenang perang dan untuk memperbaiki perekonomiannya sendiri. Hal ini justru meningkatkan inflasi dan memperburuk kondisi. Dilain pihak, depresi hebat atau yang dikenal sebagai The Great Depression melanda Amerika Serikat tahun 1929, diawali dengan jatuhnya harga saham di bursa Wall Street pada Oktober 1929. Depresi hebat yang terjadi tidak hanya melanda Amerika Serikat, tetapi juga perekonomian di seluruh dunia memburuk. Di Indonesia masa depresi hebat ini disebut zaman malaise atau zaman meleset.

Sistem standar emas dan perdagangan bebas yang selama itu dipakai dituding sebagai penyebab bencana ekonomi International. Penggunaan sistem tersebut menyebabkan meningkatnya persaingan perdagangan bilateral dan devaluasi mata uang yang susul-menyusul di berbagai negara. Perang Dunia meletus antara tahun 1939-1945, dan babak perekonomian baru dimulai ketika Jerman mempropagandakan "tatanan baru pasca perang dunia II" untuk negara-negara Eropa yang merupakan komponen penting dalam sistem perdagangan International. Jerman mengusulkan sebuah sistem perdagangan multilateral yang akan menggantikan kekacauan sistem ekonomi tahun 1930-an. Dimana, akan dibentuk sebuah lembaga kliring moneter International yang menyelaraskan kurs mata uang international dan membantu pemerintah mengatasi defisit neraca pembayaran.

Pada tanggal 26 Mei 1944 Presiden Amerika Serikat waktu itu, yakni presiden Roosevelt, secara resmi mengundang 43 negara untuk menghadiri Konferensi Moneter dan keuangan PBB, yang dilangsungkan di hotel Mount Washington di Bretton Woods, New Hampshire yang dikenal dengan "The Bretton Woods Conference". Konferensi ini dimulai pada tanggal 1 Juli 1944 dan berakhir pada tanggal 22 juli 1944. Gagasan diadakannya konferensi ialah untuk membentuk lembaga international yang membantu pembangunan, rekonstruksi, bank investasi, mempercepat pertumbuhan ekonomi pasca perang, dana stabilisasi international yang pada akhirnya melahirkan International Monetary Fund (IMF) dan International Bank of Reconstruction and Development (IBRD) atau yang lebih kita kenal dengan bank Dunia ( World Bank).

Dalam konferensi juga disepakati suatu sistem mata uang yang disebut Fixed Exchange Rate System yang mempunyai beberapa persamaan dengan standar emas di mana memuat ketentuan:

  1. Tiap negara menentukan nilai tukar mata uangnya terhadap dolar Amerika Serikat.

  2. Amerika Serikat menentukan nilai tukar doiarnya terhadap emas, yakni US$ 35 per ons.

  3. Amerika akan menjual emas dengan harga tetap terhadap pemegang resmi mata uangnya.

  4. Perubahan nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika Serikat tidak boleh melebihi 1 % dan bila terpaksa demikian maka batas maksimalnya adalah mencapai 10%. Perubahan di atas 10 % harus seizin IMF.

Pada periode tahun 60-an, terjadi defisit neraca pembayaran Amerika yang memaksa negara tersebut melepaskan cadangan emasnya sebesar US$ 18 miliar. Defisit pada neraca pembayaran ini disebabkan oleh tindakan Perancis yang menukarkan USD dengan emas. Pada periode 70-an Amerika harus kembali melepaskan cadangan emasnya sebesar US$ 11 miliar. Buruknya perekonomian Amerika kala itu menyebabkan dunia kurang percaya terhadap USD. Negara-negara yang memiliki mata uang yang kuat karena cadangan emasnya yang cukup seperti Swiss dan Jerman, memilih menukarkan USD-nya dengan mata uang mereka yaitu CHF dan MDK.

Pada periode tahun 70-an ini juga, hutang jangka pendek yang hampir jatuh tempo di Amerika mencapai hampir dua kali cadangan emasnya. Maka pada tanggal 15 Agustus 1971, Presiden Nixon mengumumkan perubahan sistem nilai tukar untuk USD yang semula Fixed Exchange Rate System menjadi Floating Exchange Rate System atau sistem mengambang bebas. Perubahan sistem nilai tukar ini ditegaskan dalam suatu konferensi di Washington yang berlangsung pada tanggal 17-18 Desember 1971, yang dikenal dengan Smithsonian Conference. Konferensi ini mengakibatkan banyak negara memutuskan untuk mengambangkan nilai tukar mata uangnya, seperti Jerman, Inggris, Belanda dan Jepang. Pada bulan Mei 1972, USD didevaluasi sebesar 7,9%, sehingga harga emas menjadi US$ 38 per ons. Pada bulan Februari 1973, USD kembali di devaluasi sebesar 10%. Hal tersebut mengakibatkan pasar menjual USD-nya kembali secara besar-besaran. Akibatnya, nilai tukar USD terus merosot tajam.

Memasuki era 80-an, pergerakan modal lintas batas berkolaborasi dengan kemajuan teknologi, memperluas jangkauan pasar melampaui batas zona waktu, Amerika, Eropa, dan Asia. Uang tidak hanya berfungsi sebagai alat pertukaran, tetapi telah menjadi barang komoditas yang diperdagangkan di seluruh dunia. Saat ini, teknologi memungkinkan kita untuk menjangkau pasar uang tersebut. Dengan teknologi internet, akses menuju pasar uang semakin mudah. Selama terhubung dengan jaringan/internet, baik dari kantor, rumah dan dimana pun kita berada, akses menuju ke sana menjadi mudah. Pada saat ini, perdagangan valas boleh dikatakan sebagai 'the largest financial market' di dunia, dengan rata-rata perputaran harian mencapai lebih dari US $ 1,5 triliyun 30 kali lebih besar dibandingkan transaksi pasar modal di seluruh Amerika. Uniknya, hanya 5 % dari transaksi harian tersebut yang benar-benar dilakukan sebagai transaksi perdagangan barang dan jasa antar perusahaan atau negara. Selebihnya, lebih banyak dilakukan untuk berspekulasi mencari keuntungan.